Powered By Blogger

Total Pageviews

Friday, December 16, 2011

Cerita Epilepsi : Pengalaman Berharga Bersama Epilepsi

MY NAME IS ASKA PRIMARDI, AND I AM PERSON WITH EPILEPSY
Dahulu, kalimat ini sulit diucapkan dan diresapi. Saya pernah memiliki gangguan epilepsi. Kurang lebih selama 10 tahun, dari tahun 1997 sampai 2007. Dalam rentang 10 tahun itu, setiap minggu saya bisa kena serangan dalam 2-3 hari, dan dalam 1 hari, bisa kena serangan 2-3 kali. Jadi Anda bisa menghitung sendiri kira-kira berapa kali saya kena serangan dalam sebulan atau setahun. Segala jenis pengobatan dan terapi sudah pernah dicoba. Beberapa kali mengalami perubahan jenis dan dosis obat yang diminum, tapi sampai tahun ke 9 saya masih saja kena serangan. Sehingga muncul pertanyaan: MENGAPA SAYA HARUS MEMILIKI EPILEPSI? Apa salah Saya?
Ada satu hal yang mungkin dapat menjadi penyebab mengapa Saya punya epilepsi, yaitu dalam proses kelahrian.
Saat itu Saya agak sulit keluar dari rahim ibu. Ketika dilakukan pemeriksaan rutin kehamilan tujuh bulan, dokter memutuskan bahwa ibu Saya harus bedrest karena selalu mengalami kontraksi setiap setengah jam, mirip orang yang hendak melahirkan. AkhirnyaIbu saya bilang, sebenarnya kontraksi ini sudah terjadi sejak usia kandungan tiga bulan. Ibu Saya tidak bilang dari sebelumnya karena tidak tahu bahwa kontraksi ini sebenarnya berbahaya. Terlebih lagi saat itu Ayah-Ibu sedang lanjut studi di Perancis. Jadi tidak ada keluarga atau saudara yang memberi tahu atau menyarankan untuk ke dokter. Akhirnya perlu diambil tindakan medis untuk 'mengulur' waktu kelahrian agar Saya tidak lahir premature.



Akhirnya Saya pun lahir. Namunpada proses kelahiran ini, ada satumasalah besar, yaitu tubuh saya sangat sulit keluar dari rahim. Dokter akhirnya memutuskan untuk memakai forceps, semacampenjepit, mirip tang untuk menjepit kepala Saya dan menarik keluar. Jepitan inilah yang kemungkinan besar meninggalkan luka dan akhirnya mungkin menjadi penyebab masalah di otak Saya. Tengkorak dan tubuh di masa bayi tentunya tidak akan sekuat ketika kita sudah dewasa.



Saya teringat sejak kecil sering merasakan perasaan-perasaan aneh. Sebuah perasaan yang mirip dengan ketakutan, tapi tidak ada atau tidak tahu hal yang menyebabkan munculnya ketakutan itu. Ketika merasakan hal itu, detak jantung Saya langsung berdetak kencang. Mirip perilaku orang yang sedang ketakutan. Tapi tiba-tiba perasaan itu hilang begitu saja, dan Saya melupakannya.



Suatu hari di tahun 1997, saat itu Saya selalu sibuk dengan berbagai aktivitas sekolah ,tiba-tiba prasaan takut itu muncul lagi. Dan Saya pun kehilangan kesadaran. Setengah sadar Saya 'melihat' tubuh Saya memberontak dan tidak terkontrol. Ketika tersadar, tiba-tiba Sayasudahada di dalam kamarRumahSakit. Sejak saat itu, saya mulai kena serangan setiap minggunya. Dan mulai tahu bahwaperasaan-perasaan yang sudah muncul sejak kecil itu adalah sebuah 'Aura' pertanda munculnya serangan.



Kalau diurutkan kembali cerita-cerita ini kebelakang, berarti Saya memang sudah 'diharuskan' untuk hidup dengan epilepsi. Ini ditandai dengan proses kelahrian Saya. SAYA MEMANG HARUS HIDUP DENGAN EPILEPSI. Kesadaran ini muncul setelah 9 tahun menjalani pengobatan tanpa kemajuan yang berarti. Dengan adanya kesadaran ini saya pun memiliki jawaban sementara atas pertanyaan "Mengapa Saya harus memiliki epilepsi?".Yaitu: SEGALA HAL YANG DICIPTAKAN OLEH TUHAN DI DUNIA INI TIDAK ADA YANG SIA-SIA. Pasti ada alasan mengapa Saya harus hidup sebagai Orang DenganEpilepsi (ODE). Saat itu Saya belum bisa menemukan jawabannya, tapi pada saatnyananti Saya akan menemukannya.



Sejak munculnya kesadaran itu, Saya tidak pernah lagi MENOLAK epilepsi. Saya berusaha untuk bersahabat dan hidup berdampingan dengan epilepsi. Dengan kesadaran itu, Saya lebih bertanggungjawab pada diri sendiri untuk mencegah munculnya serangan denganmenghindari 5K: Kepanasan, Kedinginan, Kelaparan, Kepikiran, Kecapekan. Misalnya Saya selalu mencatat kapan dan berapa kali Saya kena serangan. Akhirnya ketika banyak catatan terkumpul Saya bisa menemukan sebuah 'ritme' aktivitas otak & tubuh saya, sehingga dapat memprediksi kira-kira kapan akan kena serangan.



Otak manusia bekerja dengan prinsip keteraturan. Yang penting bukanlah kita harus tidur jam 9 malam dan bagun jam 5 pagi. Tapi yang penting adalah jam berapa kita biasa tidur, dan jam berapa kita biasa bangun. Salah satu contoh efek teraturan ini adalah jetlag ketika kita pergi ke belahan bumi lain dengan pesawat. Ketika Saya terbiasa tidur di malam hari waktu Jakarta (Siang hari waktu New York), maka ketika Saya sampai New York, di malam hari waktu New York saya tidak bisa tidur, karena ini sama dengan siang hari waktu Jakarta. Namun lama kelamaan, tubuh dan otak bisa menyesuaikan diri secara perlahan. Berubah lagi pola ritme otaknya. Inilah alas an mengapa kita dapat terbangun waktu subuh dengan tiba-tiba, tanpa bantuan alarm: otak telah terbiasa mengatur tubuh untuk bangun disaat subuh.



Dengan dapat memprediksi kapan kena serangan, saya bisa melakukan antisipasi. Misalnya ketika hari ini Saya sedang memasuki fase 'normal', Saya akan maksimalkan waktu dengan mengerjakan tugas sekolah atau pun belajar, walaupun deadline tugas tersebut masih lama. Hal ini saya lakukan semata-mata agar ketika fase 'serangan' itu tiba, saya dapat memanfaatkan waktu untuk beristirahat.



Dengan begitu saya mulai bisa menerima kondisi diri sendiri. Khususnya kondisi fisik. KITA SELALU INGIN AGAR ORANG LAIN MENERIMA DIRI KITA, TAPI SERING KALI KITA KESULITAN UNTUK MENERIMA DIRI KITA SENDIRI. Saya pun mulai berani terbuka untuk bercerita pada teman tentang kondisi diri, tentang epilepsi dan serangannya. Dengan begitu teman-teman mulai mengerti dan memahami tentang epilepsi. Respon buruk dari teman-teman kebanyakan selama ini hanya dalam pikiran Saya. Bukan dalam dunia nyata.Teman-teman Saya ketika sudah memahami tentang epilepsi, perilakumereka lebih bersabahat.S ESEORANG BERPERILAKU BERDASARKAN APA YANG DIKETAHUINYA. KETIKA IA TAHU BAHWA EPILEPSI ITU TIDAK MENULAR ATAU TIDAK BERBAHAYA, MAKA IA DAPAT BERTEMAN DENGAN KITA. Jadi tidak selamanya orang lain akan berperilaku buruk terhadap ODE.



Tentang penilaian kita terhadap perilaku masyarakat terhadap ODE, Saya punya sebuah cerita. Tahun 2008 Saya sedang mengikuti kongres epilepsi Asia-Pasifik di Xiamen China. Di sela-sela semninar, Saya sempatkan untuk jalan-jalan bersama seorang teman yang juga ODE. Ketika sedang menikmati suasana keramaian kota, tiba-tiba teman saya itu pingsan secara perlahan. Saya langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Saat itu saya yakin bahwa dia sedang kena serangan. Saya berusaha tetap tetang, dan menunggu dia akan sadar kembali. Masalahnya, Saya tidak tahu berapa lama dia akan sadar kembali.



Semakin lama, makin banyak penduduk lokal yang memperhatikan kami. Satu persatu datang dan bertanya pada Saya. Masalahnya, Saya tidak bisa bahasa China, dan mereka pun tidak bisa bahasa Inggris. Ada juga seseorang yang lantas memanggil polisi. Hal inilah yang justru membuat Saya panik. Saya tidak tahu apa yang harus Saya Lakukan, apalagi Saya sedang ada di negeri orang. Ingin rasanya berteriak: "English pelaseee!!", agar mereka bisa memahami bahwa teman Saya sedang kena serangan, dan sebentar lagi dia akan sadar Kembali. Untungnya, beberapa saat kemudian, teman saya itu tersadar lagi, dan bisa berdiri lagi. Saat itu orang-orang mulai meninggalkan kami.



Dari situ Saya makin memahami bahwa kepanikan dan kebingungan yang Saya alami itu adalah apa yang dirasakan oleh teman-teman ataupun siapa saja yang melihat ketika Saya kena serangan. Saya jadi merasa malu ketika dulu selalu menyalahkan orang lain jika Saya tidak mendapat perhatian atau pertolongan saat serangan. Saya sekarang paham tentang bagaimana kebingungan mereka. Terlebih lagi mereka belum banyak tahu tentang epilepsi. SETIAP ORANG PUNYA PERAN DALAM KEJADIAN DI DUNIA INI. BAHKAN PERILAKU DIAM PUN PUNYA EFEK KE ORANG LAIN. MISAL KITA DIAM SAJA KETIKA MELIHAT ODE KENA SERANGAN. BEDA DENGAN KITA MENOLONG KETIKA MELIHAT ODE KENA SERANGAN. KITA SEBAGAI ODE JUGA BERPERAN DALAM KEJADIAN ITU. KALAU KITA TIDAK MEMBERITAHU ORANG LAIN BAHWA KITA PUNYA EPILEPSI, BAHWA KITA AKAN KENA SERANGAN, BAHWA EPILEPSI ITU TIDAK MEULAR, MAKA JANGAN BERHARAP BAHWA ORANG LAIN AKAN BERPERILAKU SEPRRTI YANG KITA INGINKAN. SEBELUM MENGOREKSI ORANG LAIN, KITA PERLU MENGOREKSI DIRI SENDIRI TERLEBIH DAHULU.
APA ITU 'KEBETULAN'?



Anda percaya dengan segala kejadian kebetulan? Saya lebih suka menjelaskan kejadian 'kebetulan' sebagai hasil dari perilaku tidak sadar kita, baik perilaku tidak sadar individual maupun perilaku tidak sadar kolektif (bersama-sama orang lain). Kita tidak dapat menjelaskan terjadinya peristiwa tersebut, karena kita tidak menyadari melakukan hal yang berujung pada terjadinya peristiwa tersebut. Karena itulah ketika sebuah peristiwa terjadi kita jelaskan dengan istilah 'kebetulan'.



Saya sudah mulai nenanamkan sebuah value dalam diri Saya: SETIAP ORANG MEMILIKI UJIAN HIDUPNYA SENDIRI-SENDIRI. TERMASUK SAYA DENGAN EPILEPSI. SEPERTI SEKOLAH, AKAN ADA SAATNYA SAYA LULUS UJIAN. KETIKA SAYA SUDAH BISA LULUS UJIAN HIDUP EPILEPSI INI, PASTI AKAN ADA SAATNYA SAYA DIWISUDA, DAN MEMASUKI FASE KEHIDUPAN YANG LAIN. FASE KEHIDUPAN YANG TIDAK LAGI HANYA TERFOKUS PADA 1 HAL: EPILEPSI. TUHAN SEBAGAI GURU KEHIDUPAN YANG AKAN MENILAI APAKAH SAYA SUDAH PANTAS UNTUK LULUS ATAU BELUM.



Di tahun ke 9 sampai ke 10, saya mulai bersahabat dengan epilepsi. Saya selalu mensugestikan value di atas dalam diri Saya. Tujuannya adalah agar dapat termanifestasikan dalam perilaku sadar & tidak sadar saya. Dengan belajar lebih ikhlas menerima epilepsi, saya mulai jarang mendapatkan serangan. Ada banyak hal yang mungkin dapat menjadi alasannya: saya lebih bertanggung jawab untuk mengatur perilaku diri sendiri, dan juga tidak langsung menilai buruk segala hal karena kita juga punya hak untuk menilai baik. Saya selalu mengevaluasi diri, misal hari ini kena serangan. Saya ingat-ingat kembali kira-kira apa ya penyebabnya. Atau hal lain misalnya saat itu Saya akan lulus S1 dan bingung mencari pekerjaan karena epilepsi. Saya evaluasi kira-kira keterbatasan dan kelebihan saya sebagai ODE, dengan begitu saya bisa memilih pekerjaan yang pas dan cocok bagi saya sebagai ODE. Keterbatasan pilihan membuat Saya lebih mudah memilih. Saya hanya punya satu pilihan dan saya akan maksimalkan segala energy dan pikiran untuk mencapai pilihan pekerjaan tersebut. Lain halnya dengan orang-orang normal yang bingung merencanakan pekerjaannya. Sehingga hanya asal kirim surat lamaran ketika melihat lowongan, dan ketika diinterview mereka gagal karena dinilai tidak pas atau tidak memiliki passion dalam bidang pekerjaan tersebut.



Dengan menerima, saya tidak malu lagi mengakui diri sebagai ODE. Saya ingin rekasi masyarakat tentang epilepsi berubah. Akhirnya Saya mulai sering menulis di blog. Saat itu ada banyak tulisan di blog dan menambah banyak teman ODE. Suatu hari, ada seorang ODE yang komentar di tulisan Saya. Intinya dia cerita bahwa dia sudah sembuh lewat operasi di Semarang, dan akan ada acara dialog dengan dokter tersebut di TVRI.  Dari situlah Saya tahu bahwa ada operasi di Indonesia. Apakah ini sebuah 'kebetulan'? kebetulan dapat info tentang operasi? Saya segala hal ini sudah diatur oleh pencipta alam semesta, sehingga segala kejadian-kejadian di dunia ini dapat saling terhubung satu sama lain.



Saya baru yakin bahwa operasi adalah saatnya Saya lulus dari ujian hidup, ketika saya menyadari bahwa saya baru mendapatkan info tentang operasi SETELAH saya bisa bersahabat dengan epilepsi. Dr Zainal, yang mengoperasi Saya, bercerita bahwa ada pasien-pasiennya yang sudah operasi dan sebenarnya sudah tidak ada masalah secara fisik, tapi masih sering kena serangan. Hal ini semata-mata disebabkan karena ia sudah terlanjur berpikiran dan berperilaku seperti orang Sakit baik secara sadar maupun tidak sadar.  Ini menjadi jawaban yang pas atas pertanyaan: "MENGAPA BARU SEKARANG SAYA MENDAPAT INFO TENTANG BEDAH SYARAF EPILEPSI?"


SAYA SIAP GAGAL
Pertama kali bertemu dr Zainal, saya tunjukkan hasil MRI yang sama dengan yang pernah saya tunjukkan pada dokter lain. Hasilnya, beliau memiliki interpretasi beda dari hasil MRI tersebut. Beliau bisa melihat dan menemukan lokasi fokus penyebab serangan Saya di otak. Tapi belum begitu jelas, maka dari itu Saya diminta lagi untuk MRI yang lebih tajam di Jakarta.



Kesan pertama bertemu beliau, Saya mulai melihat sebuah kepastian, mengingat sejak dulu dokter selalu berkata saya normal berdasarkan hasil tes. Kalau memang saya normal, mengapa tetap saja kena serangan?
Setelah wisuda S1 di UGM Yogyakarta, sehari kemudia Saya langsung ke Jakarta untuk MRI. Dua minggu kemudian saya bertemu lagi dengan dr Zainal di Semarang dan menyerahkan hasil MRInya. Pertanyaan yang langsung muncul dari beliau: "Aska, ini sudah sangat jelas penyebab seranganmu, harus segera diangkat agar tidak menyebar ke bagian otak lain. Kamu siap operasi seminggu lagi?". Wow, pertanyaan yang mengejutkan dan sebenarnya memang saya tunggu-tunggu, Saya pun langsung menjawab: "IYA". Dan saya diminta untuk tes EEG sekali lagi untuk lebih mendukung hasil MRI, dengan syarat kena serangan saat EEG.



Setelah itu saya langsung tes EEG di hari yang sama. Hasilnya: gagal total. Karena saya tidak bisa kena serangan saat EEG. Mengapa saya 'sulit' kena serangan, padahal sebelumnya sangat mudah kena serangan?. Dokter yang melakukan tes-EEG sudah bisa menduganya, saya sulit kena serangan karena dalam diri saya selalu terpancar emosi senang dan bahagia. Ya, sejak tahun ke 9 saya sulit kena serangan lagi karena saya selalu senang dan bahagia hidup dengan epilepsi.



Ya sudah gagal tesnya. Saya lantas pulang  ke Jogja, untuk persiapan kembali ke Semarang seminggu kemudian untuk operasi. Saya tetap di minta tes EEG lagi sehari sebelum operasi.



Selama seminggu itu, Saya mendapat pertanyan yang sama dari setiap orang, termasuk orang tua, keluarga, saudara, & teman-teman: Mengapa kamu dengan mudahnya berkata IYA saat dokter menyarankan operasi?. Saya hanya punya jawaban: Saya siap gagal. Selama ini kita dalam mencapai keinginan kita hanya mempersiapkan diri kita untuk berhasil. Akibatnya ketika kita gagal, kita langsung merasa down. Contohnya para caleg di Pemilu 2009. Mereka berusaha mati-matian terpilih dan mengeluarkan ratusan juta uang karena ingin menjadi anggota DPR. Bagitu hasil pemilu muncul dan nama mereka tidak ikut muncul, banyak yang stress, dan menjadi pasien RSJ.



Saya siap gagal dan saya Ikhlas menerima apapun hasilnya. Menurut Saya: KITA BISA MENCAPAI KEIKHLASAN YANG TINGGI KETIKA KITA SIAP UNTUK MENERIMA APAPUN HASILNYA, TERMASUK KEGAGALAN. KITA SELALU SIAP UNTUK KEMUNGKINAN TERBURUK, DAN MENGHINDARKAN KIRI KITA DARI ZONA NYAMAN. KETIKA KITA SUDAH SIAP UNTUK KEMUNGKINAN TERBURUK, DAN TERNYATA KITA BERHASIL, KITA AKAN LEBIH DAPAT MENYSUKURI KEBERHASILAN KITA. INILAH MENGAPA MENURUT SAYA 'IKHLAS' ITU SATU PAKET DENGAN 'SYUKUR'. Saya siap jika operasi yang saya lakukan itu tidak berefek apa-apa pada epilepsi saya, atau dengan kata lain setelah operasi saya tetap punya epilepsi. Toh, saat ini saya sudah bisa bersahabat dengan epilepsi, jadi kalaupun operasinya tidak berhasil, ya Saya akan kembali ke kondisi saat ini. Tapi, siapa tahu saya bisa sembuh? Kita perlu mencoba dulu baru bisa menilai segala hal itu baik atu buruk. Jangan buru-buru member penilaian. Setelah operasi saya baru bisa menilai operasi itu baik atau buruk.



Saya pun makin mantap untuk operasi. Saya kembali ke Semarang seminggu kemudian. Di 1 hari sebelum operasi, saya harus tes EEG lagi dan HARUS kena serangan saat tes. Saya selalu berusaha memanggil serangan, tapi gagal. Saya sudah sulit untuk berpikiran negatif, sulit untuk merasa sedih, marah dll. Padahal 2-3 hari sebelum EEG saya sudah tidak lagi minum obat, sengaja mengurangi jam tidur, sengaja banyak beraktivitas, agar kelelahan dan bisa kena serangan. TAPI SEMUA ITU GAGAL. Sedemikian besarkan peran faktor psikologis untuk mengontrol serangan?



Akhirnya saya memutuskan untuk memanggil serangan dengan cara lain. Saya terpikirkan sebuah cara ketika saya teringat bahwa 'operasi besok merupakan satu pertanda kelulusan akan ujian hidup'. Saya berusaha berkata pada Tuhan dalam hati: "Ya Tuhan, kalau memang Engkau mengizinkan Aku untuk sembuh lewat operasi besok pagi, maka izinkanlah Aku untuk merasakan serangan untuk yang terakhir kalinya". Setelah berkata dalam hati, enath kenapa tiba-tiba Aura itu mulai muncul. Awalnya Aura itu terasa sangat kecil, lalu kalau dulu biasanya saya 'tolak', kali ini saya 'panggil'. "Ayo, sedikit lagi, sedikit lagi". Ini yang saya katakana dalam hati. Tiba-tiba Aura itu makin besar dan saya pun 'hilang'. Sempat 'melihat' sepintas saya sedang mengamuk di ruang EEG, tapi 'hilang' lagi. Tiba-tiba tersadar saya sudah ada dalam kamar rumah sakit. Kepala saya pusing sekali, rasanya seperti setelah Saya mendapatkan serangan Grand Mal. Saya biasanya kena seranan partial complex, tapi biasanya juga setahun sekali mengalami Grand Mal. Melihat Saya sadar, orang tua saya bercerita bahwa tadi Saya mengalami serangan hebat. Kalau saat itu saya sedang berdiri pasti Saya jatuh, mirip serangan Grand Mal.  Saya hanya 'terkagum-kagum': Apakah ini gara-gara saya berkomunikasi dengan-Nya sebelum serangan? Sehingga tidak tanggung-tanggung Ia memberiku serangan Grand Mal?



Hasil tes EEG, MRI dan tes-tes lainnya selaras sehingga semakin menyakinkan untuk dilakukan tindakan operasi. Keesokan harinya Saya pun operasi dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Dan saya baru tersadar pukul 10 malam.



Setelah tersadar, rasanya ada yang aneh di kepala Saya. Rasanya ada yang kosong. Jika kepala itu ibarat botol air yang terisi penuh, ketika dikocok, tidak masalah. Tapi ketika air dalam botol tersebut berkurang, maka air bisa jadi bergoyang ketika botol dikocok. Inilah yang saya rasakan ketika menggerak-gerakkan kepala.



Seminggu kemudian saya pulang kembali ke Rumah dan menjalani masa recovery beberapa bulan. Dr Zainal mengataknan bahwa saya harus lagi melatih memori dan berpikir, serta juga koordinasi syaraf-syaraf seluruh tubuh. Ini HARUS dilatih. Banyak hal yang Saya lalukan untuk latihan mengingat mulai dari hal-hal sepele, misal mengingat barang-barang belanjaan. Untuk berpikir, saya tidak mau membuang-buang waktu dalam masa recovery ini, jadi saya lebih pilih lanjut S2 saja dulu karena belum bisa mulai kerja. Untuk latihan koordinasi syaraf dan gerakan tubuh, kebetulan saya seorang Pianis. Jadi saya bisa menjalankan hobi sekaligus melatih memori (menghafal partitur) dan koordianasi gerakan (dengan berbagai teknik-teknik bermain piano).


MY NAME IS ASKA PRIMARDI, AND I WAS PERSON WITH EPILEPSY
Saat ini kondisi Saya Jauh lebih baik. Di tahun 2011 ini berarti sudah 4 tahun pasca operasi. Saya terakhir kena serangan itu bulan Juni 2007, dan itu sangat jelas terjadi karena kelelahan sepulang dari Ibadah Umroh. Sampai sekarang tidak kena serangan lagi. Sejak 2008 saya mulai mengurangi dosis obat perlahan-lahan, sampai akhirnya berhenti minum obat di awal 2009.



Saya tidak ada halangan lagi untuk beraktivitas. Setelah lulus S2, Saya coba presentasikan paper Saya tentang epilepsi di Indonesia pada acara Kongres Epilepsi Asia Pasifik di Melbourne Oktober 2010, dan mulai coba memperkenalkan pada dunia, bahwa kasus Epilepsi juga ada di Indonesia.



Saya pun pindah ke Jakarta untuk hidup mandiri. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan semasa sakit dahulu. Sempat menjadi dosen Psikologi di salah satu PTS, dan kemudian pindah bekerja di Global Market Research Agency sampai sekarang. Ketika di hari libur Saya ikut membantu aktif di Yayasan Epilepsi Indonesia.



Bisa dibilang saat ini Saya sudah lupa rasanya menjadi ODE. Tapi tentunya tidak ada yang sia-sia dari pengalaman selama sakit di masa lalu. Banyak hal-hal yang dipelajari selama sakit dan masih ada dalam perilaku Saya sehari-hari. Mulai dari bagaiamana manajemen waktu kegiatan/pekerjaan sehari-hari, bagaimana menyikapi dan menyelesaikan setiap masalah, dll. Semua pengalaman bersama epilepsi membuat Saya tidak lagi takut untuk mencoba hal-hal baru, dan terus belajar. Jika Saya menghadapi masalah yang berat, salah satu cara untuk membuat Saya tetap kuat adalah mengatakan: "SAYA DULU PERNAH MENGHADAPI MENGAHDAPI MASALAH YANG LEBIH BERAT SEPERTI TINDAKAN OPERASI ATAU SERANGAN EPILEPSI YANG JIKA MUNCUL DI SAAT DAN TEMPAT YANG SALAH, BISA BERAKIBAT FATAL. SAYA BISA MENGHADAPI MASALAH ITU. DAN TENTUNYA SEKARANG SAYA BISA MENYELESAIKAN MASALAH YANG DAMPAKNYA TIDAK SEBERAT EPILEPSI".


ASKA PRIMARDI
YAYASAN EPILEPSI INDONESIA

19 comments:

  1. Maaf, ada salah ketik.

    Tertulis: "Saya terakhir kena serangan itu bulan Juni 2011, dan itu sangat jelas terjadi karena kelelahan sepulang dari Ibadah Umroh"

    Seharusnya: "Saya terakhir kena serangan itu bulan Juni 2007, dan itu sangat jelas terjadi karena kelelahan sepulang dari Ibadah Umroh"

    Admin, tolong edit ya

    Thanks,
    Aska

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf sebelumnya....
      Kak aska bisa begitu karna kak aska keluarga orang mampu(kaya) nah sekarang bagaimana nasib ODE yang miskin seperti saya jangankan OPRASI minum obat ajA gak pernah karna gk mampu ke Dr.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Bisakah minta nomor atau kontak dr zainal di semarang itu? Keponakan saya umurnya 6 tahun mau 7 tahun, hari ini mau diperiksa karena sepertinya terkena epilepsi..mohon informasinya :(

    ReplyDelete
  3. Maaf boleh tanya ngga? Efek samping yang anda rasain setelah operasi apa?

    ReplyDelete
  4. efek pasca operasinya kebanyakan seperti apa ka? mohon infonya, terimakasih

    ReplyDelete
  5. Prof. Zainal praktek di RS Telogo Rejo Semarang hub call centre 024.8446000. semoga membantu yaaa

    ReplyDelete
  6. Prof. Zainal praktek di RS Telogo Rejo Semarang hub call centre 024.8446000. semoga membantu yaaa

    ReplyDelete
  7. boleh minta contactnya kak aska? tolooong banget kak

    ReplyDelete
  8. Subhanallahh temen saya barusan meninggal gara gara epilepsi

    ReplyDelete
  9. Subhanallahh temen saya barusan meninggal gara gara epilepsi

    ReplyDelete
  10. Dear.
    Sy seorang ibu yg memiliki2 putra. putra pertama sy didiagnosa epilepsi. Sekarang umurnya 10tahun. Dia mendapat serangan Pertama diusia 7tahun.
    Sudah gonta ganti obat tetap sj dia masih terkena serangan. Serangan nya walau berbentuk ngeblank.
    Anak sy sdh berobat di dokter Zainal Mutaqin. Sayangnya belum boleh mri. Sy harus bagaimana dg anak sy ini. Sebut saja anak sy Eca

    ReplyDelete
  11. Salam kenal azka, anak saya 7 thn, dia epilepsi partial complex, saat ini therapi obat do singapore rs national university hospital, therapi obat baru 1 thn, berdasarkan pengalaman azka, stlh selesai therapi obat, apakah kambuh lg, hobby yg disalurkan saran azka apa aja ya, bidang pendidikan yg cocok juga apa ya, apakah stlh operasi tdk kambuh lg, walau dlm kondisi stress sekalipun, mhn saran juga tanggapannya

    ReplyDelete
  12. Subhanallah,,saya senang sekali nemu tulisan ini,,anda keren sekali kak, I'm also a person with epilepsy. Sudah mw 2thn berobat d dokter neurology dan 2 bln ne sdh terkena serangan hebat 4x (sehari 2x)... semenjak sy punya dedek bayi yg skrg usianya 5bln, sy sering kecapean,,,pdhl sy sdh seneeng bgt punya dedek bayi...tp ttp j kadang kena serangan mskipun cm ngeblank,,,sy terinspirasi dgn apa yg kakak lakukan...sy akn sllu berusaha untuk bersahabat dgn epilepsi. Tmn sy ada yg stlh menikah epilepsi lngsng sembuh krn dy merasa bahagia :)

    ReplyDelete
  13. terimakasih atas sharingnya kak Aska .. sangat bermanfaat, membuat saya berpikiran positif pada diri sendiri dan penyakit ini

    ReplyDelete
  14. Saya punya suami yang memiliki penyakit epilepsi. Hari ini suami kambuh 2 kali. Kambuh yg pertama lebih lama dibandingkan kambuh yg ke dua. Kambuh yg kedua setelah kejang dia berjalan ke luar rumah dan terlihat sangat emosi. Ketika ditahan dia berontak menendang, menggigit, merusak almari dll, yg waktunya cukup lama. Peristiwa spt ini baru sekali ini terjadi. Mohon penjelasannya.

    ReplyDelete